Minggu, 18 Oktober 2015

Palagan Ambarawa



Palagan Ambarawa, 12 - 15 Desember 1945 part 1

Perjuangan heroik rakyat Indonesia dalam mempertahankan dan memperjuangkan Kemerdekaannya sungguh tidak bisa diabaikan begitu saja, mereka bahu membahu dengan segala golongan, mulai dari petani, pedagang, guru, hingga para pelajar bersama dengan tentara tanpa mengenal rasa lelah, takut serta kelaparan berjuang menghadapi desingan peluru serta berondongan persenjataan modern milik para penjajah.

Sungguh perjuangan yang sangat menguras tenaga dan airmata, mengorbankan segalanya baik nyawa ataupun harta. Beribu bahkan berjuta nyawa rakyat Indonesia melayang demi kemerdekaan bangsa ini, mereka rela menyerahkan nyawanya menjadi martir demi anak cucunya nanti.


Pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu ini diboncengi oleh NICA. Kedatangan Sekutu ini mulanya disambut baik, bahkan Gubernur Jawa Tegah Mr. Wongsonegoro menyepakati akan menyediakan bahan makanan dan keperluan lain bagi kelancaran tugas Sekutu, sedang Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.

Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, justru mempersenjatai mereka sehingga menimbulkan amarah pihak Indonesia. Insiden bersenjata timbul di kota Magelang, hingga terjadi pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) dan membuat kekacauan. TKR Resimen Magelang pimpinan M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam meninggalkan Kota Magelang menuju ke benteng Ambarawa. Akibat peristiwa tersebut, Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Gerakan mundur tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.

ketika itu pasukan Indonesia berada di bawah pippinan Letnan Kolonel Isdiman. ada cerita menarik yang saya dengar dari keluarga saya. salah satu kerabat eyang saya(saya lupa siapa dia, kalo ga salah kakaknya eyang kakung saya) beliau bernama isdiman juga. beliau juga salah satu anggota TKR. beliau tertangkap oleh tentara nica dan ditahan. pasukan isdiman mendapatkan kabar jika isdiman telah tertangkap. tapi kabar itu seketika terbantahkan karena kolonel isdiman kembali ke pos pejuang dengan kondisi sehat. sontak kesimpulan bahwa isdiman satunyalah yang diberitakan tertangkap oleh tentara NICA. kabar tertangkapnya isdiman langusng terdengar ke rumah keluarganya di sraten. saat itu jika pejuang indonesia tertangkap pastilah ditemukan tewas keesokan harinya. keluarga sudah merelakan kepergian beliau. tapi apa yang terjadi? beliau pulang ke rumah 1 minggu kemudian dengan kondisi sehat wall afiat, di keluarga diceritakan memang karena kesaktian beliau. tapi entahlah, mungkin karena kasus salah tangkap tersebut, beliau dibebaskan oleh tentara NICA

Tentara Sekutu kembali dihadang oleh Batalyon I Suryosumpeno di Ngipik. Pada saat pengunduran, tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut, dalam pertempuran tersebut Letnan Kolonel Isdiman gugur. Sejak gugurnya Letkol Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Soedirman merasa kehilangan perwira terbaiknya dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran.

Kehadiran Kolonel Sudirman memberikan nafas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan diantara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh semakin ketat. Siasat yang diterapkan adalah serangan pendadakan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lain-lain
Tanggal 23 Nopember 1945 ketika matahari mulai terbit, mulailah tembak-menembak dengan pasukan Sekutu yang bertahan di kompleks gereja dan pekuburan Belanda di Jalan Margo Agung. Pasukan Indonesia antara lain dari Yon Imam Adrongi, Yon Soeharto dan Yon Sugeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tanknya, menyusup ke kedudukan Indonesia dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono.

sedikit cerita yang pernah dituturkan eyang buyut putri kepada saya. pagi buta sekitar pukul 04.00 beberapa pemuda tegap meminggul senapan grant membangunkan warga pinggir kota ambarawa. menggedor tiap rumah untuk meminta para warga mengungsi ke pinggiran kota. "nica datang, ambarawa diserang!" teriak mereka. wanita dan anak2 berbondong2 mengungsi ke salatiga dan pringsurat. sebagian tetap tinggal di rumah masing2 termasuk eyang putri. mereka tidak bisa mengungsi karena kakak perempuan eyang putri saya dalam keadaan sakit. hanya ada wanita dan anak2 di rumah. keadaan semakin kacau ketika sebuah pesawat p-51d mustang berputar di atas kota ambarawa. semua pemuda lelaki pergi ke luar rumah, mereka membawa senjata apapun sekenanya. tak ada laki2 di rumah itu.

8 komentar: